Bogor, 8 September 2026 – Pemerintah Kota Bogor memutuskan mengakhiri sementara kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan kembali memberlakukan pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Rabu, 9 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan dan evaluasi menunjukkan kualitas udara di wilayah Kota Bogor berangsur membaik setelah sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan indikator dari stasiun pemantauan memperlihatkan peningkatan kualitas udara sehingga kegiatan belajar mengajar dinilai sudah dapat kembali berlangsung di sekolah. Meski demikian, pemulihan kegiatan pendidikan tetap dilakukan dengan sejumlah langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan peserta didik. Sekolah diminta memastikan lingkungan belajar dalam kondisi bersih dari sisa debu sebelum siswa datang. Aktivitas di luar ruangan juga masih perlu dibatasi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan paparan partikel yang tersisa.
Keputusan mengembalikan pembelajaran tatap muka diambil setelah Pemerintah Kota Bogor melakukan evaluasi terhadap kondisi udara selama penerapan PJJ. Pemantauan mengacu pada informasi kualitas udara dari sejumlah titik, termasuk Leuwiliang dan IPB Command Center, yang digunakan untuk melihat perkembangan kondisi secara lebih menyeluruh. Hasil evaluasi menunjukkan kualitas udara relatif membaik dibandingkan beberapa hari sebelumnya ketika sebaran abu vulkanik sempat memengaruhi aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah kemudian menggelar rapat koordinasi bersama Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, sekretaris daerah, wakil wali kota, serta organisasi perangkat daerah terkait. Dari pembahasan tersebut diputuskan bahwa kegiatan belajar mengajar dapat kembali dilakukan secara langsung. Pemkot tetap meminta seluruh pihak tidak mengabaikan langkah perlindungan karena kondisi lingkungan masih perlu dipantau secara berkala.
Perbaikan kualitas udara juga terlihat dari hasil pemantauan partikulat di Kota Bogor pada Selasa pagi. Indeks partikulat tercatat berada pada angka 28 dan masuk kategori baik, setelah sebelumnya kualitas udara sempat berada pada angka 83 atau kategori sedang. Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator yang memperkuat keputusan pemerintah untuk mengembalikan aktivitas pendidikan secara bertahap menuju kondisi normal. Pemerintah tetap mengingatkan bahwa kualitas udara dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, aktivitas masyarakat, serta perkembangan sebaran material vulkanik. Karena itu, pemantauan melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara tetap dilakukan untuk memberikan gambaran kondisi secara aktual. Hasil pemantauan selanjutnya akan menjadi bahan pemerintah menentukan apakah diperlukan langkah tambahan apabila kembali terjadi penurunan kualitas udara.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Bogor menerapkan PJJ pada 7–8 September 2026 sebagai langkah perlindungan setelah wilayah tersebut terdampak sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Kebijakan tersebut terutama diterapkan terhadap satuan pendidikan agar anak-anak tidak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara belum sepenuhnya stabil. Peserta didik menjalankan kegiatan belajar dari rumah sementara pemerintah melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan. Penerapan PJJ sejak awal dirancang sebagai kebijakan sementara dan akan dievaluasi berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara. Pemerintah tidak ingin kegiatan belajar tatap muka dihentikan lebih lama apabila kondisi sudah memungkinkan siswa kembali ke sekolah dengan aman. Sebaliknya, perpanjangan PJJ sebelumnya juga disiapkan sebagai pilihan apabila hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara belum membaik.
Menjelang dimulainya kembali pembelajaran tatap muka, seluruh kepala sekolah dan jajaran satuan pendidikan diminta mempersiapkan lingkungan sekolah sebaik mungkin. Ruang kelas, halaman, fasilitas umum, serta area yang sebelumnya berpotensi terkena debu perlu dibersihkan sebelum digunakan peserta didik. Pembersihan sisa abu tidak dianjurkan dilakukan dengan cara yang dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup oleh warga sekolah. Penggunaan air atau lap basah menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk membantu mengendapkan dan membersihkan partikel. Pemerintah sebelumnya juga melakukan penyemprotan di sejumlah fasilitas publik, ruas jalan protokol, trotoar, tanaman, dan kawasan lain yang terdampak. Langkah serupa dilakukan di lingkungan pendidikan agar kondisi sekolah lebih aman ketika siswa kembali menjalani kegiatan belajar.
Meski pembelajaran kembali berlangsung normal, peserta didik tetap diwajibkan menggunakan masker sebagai bentuk perlindungan tambahan. Pemkot juga mengarahkan siswa menggunakan pakaian tertutup dan meminta sekolah mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk sementara waktu. Kegiatan seperti olahraga, upacara, atau aktivitas lain yang membuat siswa berada di ruang terbuka dalam waktu panjang dapat disesuaikan dengan kondisi kualitas udara. Kebijakan tersebut terutama penting bagi anak-anak yang termasuk kelompok lebih rentan terhadap paparan partikulat. Sekolah juga diminta memastikan berbagai protokol kesehatan tetap berjalan dan segera mengambil tindakan apabila terdapat peserta didik yang menunjukkan keluhan kesehatan. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pendidikan kembali berjalan tanpa mengabaikan kewaspadaan terhadap dampak lingkungan yang belum sepenuhnya berakhir.
Pemerintah Kota Bogor sebelumnya telah mendistribusikan sekitar 190 ribu masker ke sejumlah wilayah dan perangkat daerah sebagai bagian dari penanganan dampak abu vulkanik. Hingga pemantauan terakhir, pemerintah daerah juga belum mencatat pasien infeksi saluran pernapasan akut yang secara langsung dikaitkan dengan paparan abu vulkanik tersebut. Kendati demikian, kondisi itu tidak membuat langkah pencegahan dihentikan karena dampak terhadap kesehatan dapat berbeda pada setiap individu. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang mempunyai riwayat gangguan pernapasan tetap disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Penggunaan masker tetap dianjurkan ketika masyarakat harus berada di kawasan terbuka atau lingkungan dengan konsentrasi debu lebih tinggi. Pemerintah berharap kombinasi antara perbaikan kualitas udara dan langkah pencegahan dapat menjaga kondisi kesehatan masyarakat selama aktivitas secara bertahap kembali normal.
Pemulihan kualitas udara juga terjadi bersamaan dengan menurunnya intensitas aktivitas Gunung Anak Krakatau dan berkurangnya volume abu vulkanik yang sebelumnya tersebar mengikuti pergerakan angin. Perubahan kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap wilayah yang dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan kualitas udara. Namun, pemerintah daerah tetap mengandalkan hasil pengukuran lokal sebagai dasar menentukan kebijakan karena kondisi udara pada setiap wilayah dapat berbeda. Pendekatan berbasis pemantauan diperlukan agar keputusan mengenai sekolah maupun kegiatan masyarakat tidak hanya bergantung pada perkembangan aktivitas gunung api. Faktor cuaca, kecepatan angin, kelembapan, serta konsentrasi partikulat juga dapat memengaruhi kondisi udara dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, evaluasi tetap dilakukan meskipun indikator terbaru menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Di Kabupaten Bogor, kegiatan pendidikan juga kembali diarahkan berjalan secara normal seiring membaiknya kondisi kualitas udara. Pemerintah daerah tetap menempatkan kesehatan peserta didik sebagai pertimbangan dalam menentukan pelaksanaan kegiatan sekolah setelah sebelumnya dilakukan penyesuaian akibat dampak abu vulkanik. Kembalinya siswa ke ruang kelas diharapkan membantu memulihkan ritme pembelajaran yang sempat berubah selama pemberlakuan belajar dari rumah. Pengalaman beberapa hari terakhir sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapan sekolah menghadapi perubahan kondisi lingkungan yang dapat terjadi secara mendadak. Mekanisme PJJ tetap dapat digunakan kembali apabila situasi di kemudian hari mengharuskan kegiatan tatap muka dihentikan sementara. Fleksibilitas tersebut diperlukan agar keselamatan siswa tetap terlindungi tanpa menghentikan keberlangsungan proses pendidikan.
Dengan dimulainya kembali pembelajaran tatap muka pada 9 September, Pemerintah Kota Bogor meminta sekolah dan masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan tidak langsung mengendurkan kewaspadaan. Pemulihan kondisi menjadi perkembangan positif setelah aktivitas pendidikan dan masyarakat sempat terganggu akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Namun, kebersihan lingkungan sekolah, penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, serta perhatian terhadap kelompok rentan masih perlu dipertahankan sampai kondisi benar-benar stabil. Pemantauan kualitas udara akan terus menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan apabila terjadi perubahan situasi dalam beberapa hari mendatang. Sekolah juga diharapkan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah apabila menemukan kondisi lingkungan atau keluhan kesehatan yang membutuhkan penanganan. Dengan langkah tersebut, kembalinya siswa ke sekolah diharapkan dapat berlangsung aman sekaligus membuat kegiatan pendidikan di Bogor secara bertahap kembali berjalan seperti biasa.





