Makassar, 9 September 2026 – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) memperkuat komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Sulawesi Selatan melalui kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GEKRAFS Sulsel periode 2026–2029. Kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Andi Rahmat Manggabarani diharapkan mampu menjadi wadah kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif, UMKM, komunitas, generasi muda, hingga berbagai pemangku kepentingan. Fokus utama organisasi diarahkan pada pengembangan potensi lokal agar mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Penguatan jaringan dan kolaborasi juga diharapkan melahirkan inovasi serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.
Ketua Umum DPP GEKRAFS Kawendra Lukistian menilai setiap daerah mempunyai karakter dan potensi ekonomi kreatif yang berbeda sehingga strategi pengembangannya perlu disesuaikan dengan keunggulan masing-masing wilayah. Sulawesi Selatan dinilai mempunyai modal besar dari sisi budaya, kreativitas masyarakat, produk lokal, kuliner, fesyen, kriya hingga berbagai subsektor kreatif lainnya. Tantangan berikutnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. GEKRAFS Sulsel karena itu diharapkan dapat membantu pelaku kreatif meningkatkan kapasitas sekaligus menghubungkan produk dan karya mereka dengan pasar yang lebih luas. Organisasi tersebut juga ingin menjadi ruang bersama bagi pelaku ekonomi kreatif untuk berkarya, berkembang, membangun jaringan, dan memperoleh akses terhadap berbagai peluang baru.
Kepengurusan DPW GEKRAFS Sulawesi Selatan periode 2026–2029 telah dilantik pada Jumat, 4 September 2026, dengan mengambil lokasi di atas Kapal Phinisi di kawasan Pantai Losari, Makassar. Pemilihan lokasi tersebut sekaligus memperlihatkan keterkaitan ekonomi kreatif dengan kekayaan budaya dan identitas lokal Sulawesi Selatan. Kapal Phinisi merupakan salah satu warisan budaya yang mempunyai nilai historis sekaligus potensi untuk dikembangkan dalam kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif. Pelantikan menjadi momentum awal bagi kepengurusan baru untuk melakukan konsolidasi sekaligus menyusun berbagai program yang akan dijalankan selama periode organisasi. Setelah pelantikan, pengurus diharapkan segera membangun hubungan dengan pelaku usaha, komunitas, pemerintah daerah dan berbagai sektor kreatif yang berkembang di Sulawesi Selatan.
Ketua DPW GEKRAFS Sulawesi Selatan Andi Rahmat Manggabarani menegaskan pengembangan organisasi tidak dapat dilakukan hanya oleh ketua maupun sejumlah pengurus tertentu. Kekuatan organisasi justru berada pada kemampuan seluruh jajaran untuk bekerja bersama dengan memanfaatkan keahlian, pengalaman dan gagasan yang berbeda. Keberagaman latar belakang pengurus dipandang sebagai modal untuk menghasilkan program yang relevan dengan kebutuhan pelaku ekonomi kreatif di daerah. Melalui kolaborasi tersebut, GEKRAFS Sulsel diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang menjalankan kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan program konkret dengan dampak yang dapat dirasakan pelaku usaha. Andi Rahmat sebelumnya terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Wilayah GEKRAFS Sulawesi Selatan yang digelar di Makassar pada 25 Mei 2026.
Konsolidasi internal menjadi salah satu agenda penting setelah terbentuknya kepengurusan baru. Ketua Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan DPP GEKRAFS Arifin Ihsan Rismansyah menilai keberagaman kemampuan dan pengalaman para pengurus dapat menjadi kekuatan apabila disatukan dalam arah gerakan yang jelas. Sulawesi Selatan mempunyai banyak pelaku kreatif dengan karakter dan kemampuan yang beragam sehingga diperlukan ruang yang mampu mempertemukan berbagai gagasan tersebut. Kolaborasi antarpelaku juga dapat membantu membuka akses terhadap pengetahuan, teknologi, pembiayaan, promosi hingga pasar yang sebelumnya sulit dijangkau secara individual. Dengan konsolidasi yang kuat, organisasi diharapkan mampu menyusun program berdasarkan kebutuhan nyata sekaligus memperluas dampaknya hingga ke berbagai kabupaten dan kota.
Dorongan terhadap ekonomi kreatif hadir ketika perekonomian Sulawesi Selatan masih mencatatkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2026, perekonomian Sulsel tumbuh 5,59 persen secara tahunan, sementara secara kuartalan tumbuh 6,09 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Nilai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp206,70 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp110,41 triliun. Kinerja tersebut memberikan ruang bagi berbagai sektor produktif, termasuk ekonomi kreatif, untuk memperluas kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi daerah. Pengembangan sektor kreatif dapat menjadi pelengkap bagi kekuatan ekonomi Sulsel yang selama ini ditopang berbagai kegiatan seperti pertanian, perdagangan, jasa, industri, dan pembangunan infrastruktur.
Ekonomi kreatif mempunyai karakter yang berbeda dibandingkan sektor berbasis sumber daya alam karena nilai tambah utamanya berasal dari kreativitas, keterampilan, inovasi dan kekayaan intelektual. Ruang pengembangannya juga sangat luas karena mencakup 17 subsektor, mulai dari arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner hingga musik. Selain itu, terdapat penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, pengembangan permainan serta aplikasi dan perangkat lunak. Keragaman tersebut membuka peluang bagi generasi muda Sulawesi Selatan untuk memasuki sektor ekonomi baru tanpa harus bergantung sepenuhnya pada lapangan pekerjaan konvensional. Tantangannya adalah memastikan kreativitas dapat diterjemahkan menjadi produk atau layanan yang mempunyai pasar, nilai ekonomi, dan kemampuan berkembang secara berkelanjutan.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan lembaga pembiayaan menjadi penting karena pelaku ekonomi kreatif masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan usahanya. Persoalan akses pasar, kemampuan promosi, digitalisasi, penguatan merek, perlindungan kekayaan intelektual hingga akses permodalan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Di Sulawesi Selatan, pembiayaan sektor produktif juga terus diperluas, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat yang hingga Mei 2026 telah mencapai Rp7,78 triliun kepada sekitar 110.400 debitur. Dukungan pembiayaan tersebut didominasi antara lain oleh sektor pertanian dan perdagangan serta menjadi salah satu instrumen untuk membuka peluang usaha yang lebih luas. Ekosistem ekonomi kreatif yang semakin terhubung dengan pembiayaan, pasar dan pendampingan diharapkan membuat pelaku usaha mempunyai kesempatan lebih besar untuk naik kelas.
Kepengurusan baru GEKRAFS Sulsel selanjutnya diharapkan mampu mengubah besarnya potensi kreativitas daerah menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan. Penguatan organisasi akan diarahkan pada perluasan kolaborasi dengan komunitas, UMKM, pelaku usaha, pemerintah daerah, generasi muda serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Jika jejaring tersebut dapat berjalan efektif, produk kreatif Sulawesi Selatan berpeluang memperoleh akses pasar yang semakin luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran GEKRAFS juga diharapkan membantu mempertemukan kreativitas lokal dengan kebutuhan industri sehingga semakin banyak gagasan dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan. Melalui langkah tersebut, ekonomi kreatif berpeluang memperkuat diversifikasi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun mendatang.





