Tangerang, 6 September 2026 – Halaman Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dipenuhi debu vulkanik yang terbawa dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu. Lapisan material halus terlihat menempel pada lantai, kursi, dan sejumlah bagian fasilitas yang berada di area luar terminal. Kondisi tersebut terlihat jelas sekitar pukul 11.00 WIB ketika petugas kebersihan terus melakukan pembersihan di beberapa titik. Sejumlah kerucut pengaman atau cone juga dipasang untuk menandai bagian lantai yang menjadi licin setelah terkena debu. Pengunjung yang melintas terlihat berjalan lebih perlahan untuk menghindari risiko terpeleset. Keberadaan material vulkanik tersebut terjadi bersamaan dengan penghentian sementara operasional penerbangan di Soekarno-Hatta akibat sebaran abu Anak Krakatau. Situasi di terminal tetap terkendali meskipun aktivitas penumpang mengalami peningkatan karena banyak penerbangan terdampak.
Petugas kebersihan terlihat bekerja secara intensif untuk mengurangi endapan debu yang berada di halaman Terminal 3. Pembersihan dilakukan secara bertahap karena material halus dapat kembali terbawa angin dan mengotori permukaan yang sebelumnya telah dibersihkan. Area yang dianggap licin diberi penanda agar penumpang dan pengunjung lebih berhati-hati ketika berjalan. Sebagian masyarakat juga memilih menggunakan masker ketika berada di sekitar terminal untuk mengurangi paparan partikel di udara. Kondisi lantai yang tertutup debu menjadi perhatian karena Terminal 3 tetap dipenuhi penumpang yang menunggu kepastian perjalanan. Pengelola bandara berupaya memastikan fasilitas tetap aman digunakan selama penanganan dampak abu berlangsung. Aktivitas pelayanan kepada penumpang juga tetap berjalan meskipun penerbangan dihentikan sementara.
Keberadaan abu vulkanik di kawasan bandara sebelumnya telah dikonfirmasi melalui pengujian langsung. Hasil paper test yang dilakukan pada Minggu antara pukul 00.35 hingga 01.05 WIB menunjukkan indikasi positif adanya sebaran abu vulkanik di Bandara Soekarno-Hatta. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penghentian sementara operasional penerbangan mulai pukul 01.30 WIB. Penutupan awalnya direncanakan berlangsung hingga pukul 05.30 WIB, tetapi kemudian diperpanjang setelah kondisi terus dievaluasi. Pemantauan terhadap abu dilakukan secara berkala untuk memastikan keamanan ruang udara maupun lingkungan bandara. Keputusan membuka atau menutup operasional tidak hanya didasarkan pada kondisi yang terlihat dari permukaan, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan material vulkanik di jalur penerbangan. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam setiap perubahan kebijakan operasional.
Operasional Bandara Soekarno-Hatta kemudian kembali diperpanjang penutupannya hingga pukul 13.30 WIB pada Minggu. Pembaruan informasi aeronautika dilakukan setelah pemantauan menunjukkan sebaran abu masih berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan. Waktu pembukaan kembali tersebut bersifat estimasi dan dapat berubah apabila kondisi ruang udara belum memenuhi standar keselamatan. Pengelola navigasi penerbangan terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu melalui sistem pengawasan yang tersedia. Koordinasi juga dilakukan dengan pengelola bandara, maskapai penerbangan, BMKG, serta instansi terkait lainnya. Setiap perubahan kondisi menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah pesawat sudah dapat kembali melakukan keberangkatan maupun kedatangan. Penumpang karena itu diminta terus mengikuti pembaruan informasi mengenai status penerbangan masing-masing.
Dampak penghentian operasional terlihat dari meningkatnya jumlah penumpang yang menunggu di Terminal 3. Sejumlah penerbangan domestik maupun internasional mengalami pembatalan, penundaan, atau penjadwalan ulang setelah abu Anak Krakatau terdeteksi di kawasan bandara. Penumpang yang telah melakukan check-in harus menunggu informasi lanjutan atau mengambil kembali bagasi sebelum mengurus perubahan jadwal perjalanan. Antrean untuk melakukan reschedule juga terlihat memanjang di sekitar konter check-in F hingga mencapai puluhan meter. Layar informasi penerbangan memperlihatkan banyak jadwal berstatus dibatalkan sehingga penumpang terus mendatangi konter maskapai. Sebagian memilih tetap berada di dalam terminal sambil menunggu kepastian mengenai penerbangan berikutnya. Situasi tersebut membuat aktivitas pelayanan penumpang berlangsung lebih padat dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan data pemantauan awal sebelum penutupan bandara diperpanjang, sedikitnya 33 penerbangan di Soekarno-Hatta telah terdampak. Pada penerbangan internasional tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penjadwalan ulang. Rute yang terdampak antara lain penerbangan menuju atau dari Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur. Untuk penerbangan domestik, tercatat empat pembatalan serta satu penerbangan yang dialihkan. Rute domestik yang terdampak antara lain Lampung, Denpasar, dan Surabaya. Jumlah tersebut masih dapat berubah karena penghentian operasional berlangsung lebih lama dan memengaruhi penerbangan berikutnya. Dampak berantai juga dapat terjadi terhadap rotasi pesawat, jadwal awak, ketersediaan armada, serta kapasitas terminal setelah penerbangan kembali beroperasi.
Sebaran abu Anak Krakatau yang mencapai kawasan Soekarno-Hatta sesuai dengan hasil pemantauan atmosfer pada Minggu pagi. Analisis menunjukkan terdapat dua klaster utama abu vulkanik yang bergerak pada lapisan ketinggian berbeda. Klaster dari permukaan hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dengan cakupan sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Kondisi tersebut memungkinkan material halus mencapai kawasan Tangerang dan lingkungan Bandara Soekarno-Hatta. Sementara klaster lainnya berada pada lapisan yang lebih tinggi dan bergerak menuju arah berbeda mengikuti pola angin. Pergerakan abu dapat berubah karena kecepatan dan arah angin tidak sama pada setiap lapisan atmosfer. Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan karena perubahan kecil pada pola angin dapat memengaruhi wilayah yang dilalui material vulkanik.
Abu vulkanik mendapat perhatian khusus dalam dunia penerbangan karena memiliki karakter yang berbeda dengan debu biasa. Partikelnya sangat halus dan dapat masuk ke bagian mesin pesawat apabila penerbangan dilakukan melewati kawasan yang terkontaminasi. Dalam kondisi tertentu, material vulkanik dapat memengaruhi kinerja mesin, sistem pesawat, serta jarak pandang penerbang. Risiko tersebut membuat otoritas penerbangan menerapkan prinsip kehati-hatian ketika abu terdeteksi di sekitar bandar udara maupun jalur penerbangan. Penutupan sementara dilakukan untuk mencegah pesawat beroperasi sebelum kondisi dinilai aman. Pengujian dan pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui apakah konsentrasi abu telah berkurang. Pembukaan kembali bandara baru dapat dilakukan setelah hasil evaluasi menunjukkan risiko terhadap keselamatan penerbangan dapat dikendalikan.
Selain berdampak terhadap operasional penerbangan, abu Anak Krakatau juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, hingga Bogor. Warga melaporkan lapisan debu halus menempel pada kendaraan, halaman, tanaman, atap, serta teras rumah. Pemerintah meminta masyarakat yang berada di wilayah terdampak menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan. Paparan abu dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama pada kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma atau penyakit pernapasan dianjurkan membatasi kegiatan di luar rumah. Endapan abu juga sebaiknya dibersihkan secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan. Masyarakat diminta tetap tenang sambil memperhatikan perkembangan kondisi udara di lingkungan masing-masing.
Pengelola Bandara Soekarno-Hatta bersama otoritas penerbangan terus melakukan evaluasi terhadap kondisi Terminal 3 dan ruang udara di sekitar bandara selama aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung. Pembersihan halaman terminal dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang, sementara pemantauan abu menjadi dasar penentuan status operasional penerbangan. Penumpang yang memiliki jadwal perjalanan diminta memeriksa informasi terbaru dari maskapai sebelum menuju bandara karena perubahan jadwal masih mungkin terjadi. Setelah operasional dibuka kembali, pemulihan penerbangan diperkirakan dilakukan secara bertahap karena terdapat akumulasi jadwal yang sebelumnya tertunda atau dibatalkan. Maskapai juga perlu mengatur ulang rotasi armada dan awak sebelum seluruh jadwal dapat kembali normal. Kondisi tersebut membuat dampak erupsi berpotensi tetap terasa meskipun ruang udara nantinya telah dinyatakan aman. Keselamatan penerbangan dan perlindungan penumpang tetap menjadi prioritas utama selama penanganan dampak abu vulkanik Anak Krakatau berlangsung.






