Jakarta, 10 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengenang perjalanan masa mudanya bersama Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika menghadiri puncak peringatan HUT Ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9). Dalam pidatonya, Prabowo menceritakan bahwa dirinya dan SBY masuk Akademi Militer pada angkatan yang sama. Meski memulai pendidikan bersama, keduanya kemudian menyelesaikan pendidikan pada angkatan kelulusan yang berbeda. Prabowo menyampaikan cerita tersebut dengan suasana santai dan beberapa kali melontarkan kelakar yang disambut tawa para peserta acara. Ia sekaligus memberikan apresiasi terhadap perjalanan SBY sejak menjadi taruna hingga akhirnya memimpin Indonesia selama dua periode sebagai presiden.
Prabowo mengatakan dirinya dan SBY sama-sama masuk Akademi Militer pada 1970. Namun, SBY dapat menyelesaikan pendidikan lebih dahulu, sementara Prabowo lulus pada angkatan berikutnya. Presiden bahkan secara terbuka memuji kemampuan SBY yang menurutnya sudah terlihat menonjol sejak menjalani pendidikan sebagai taruna. Dengan nada bercanda, Prabowo menyebut SBY sebagai taruna terbaik, sedangkan dirinya ketika itu merupakan taruna yang masih dapat diperbaiki. Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian pidato yang menarik perhatian karena Prabowo membandingkan perjalanan keduanya secara terbuka di hadapan kader Partai Demokrat. Cerita tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan panjang keduanya yang telah dimulai jauh sebelum sama-sama terjun ke dunia politik nasional.
Kehadiran Prabowo dalam acara tersebut juga memiliki makna tersendiri karena peringatan HUT Ke-25 Partai Demokrat berlangsung bertepatan dengan ulang tahun ke-77 SBY. Prabowo menyampaikan rasa terima kasih atas undangan yang diberikan sehingga dirinya dapat hadir langsung dalam perayaan tersebut. Ia menyebut SBY sebagai penggagas sekaligus pendiri Partai Demokrat yang kemudian mempunyai perjalanan panjang dalam politik Indonesia. Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan jajaran Partai Demokrat, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga hadir dalam puncak perayaan yang berlangsung di Indonesia Arena. Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi sejumlah tokoh politik untuk menunjukkan komunikasi dan hubungan yang tetap terjaga di tengah dinamika politik nasional.
Prabowo kemudian menghubungkan perjalanan dirinya dan SBY selama berada di lingkungan militer dengan pengabdian melalui jalur politik. Menurut Presiden, keduanya sama-sama pernah menjadi jenderal sebelum akhirnya memilih melanjutkan pengabdian kepada masyarakat melalui sistem demokrasi. Pendidikan militer, menurutnya, membentuk pemahaman bahwa TNI merupakan tentara rakyat yang harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. Nilai pengabdian tersebut dinilai tetap relevan ketika seseorang meninggalkan dunia militer dan memilih memasuki arena politik. Prabowo melihat perjalanan SBY sebagai salah satu contoh bagaimana seorang mantan prajurit dapat memperoleh mandat masyarakat melalui mekanisme demokratis. Dari pengalaman tersebut, ia menekankan bahwa kekuasaan politik harus diperoleh melalui kepercayaan rakyat.
Dalam pidatonya, Prabowo juga secara terbuka mengakui terdapat bagian dari perjalanan politik SBY yang menjadi contoh baginya. Setelah menyelesaikan karier militer, SBY membangun kekuatan politik melalui Partai Demokrat dan kemudian mengikuti pemilihan presiden hingga memperoleh mandat masyarakat. Prabowo selanjutnya menempuh jalur serupa dengan membangun partai politik dan mengikuti kontestasi nasional. Dengan gaya berseloroh, ia menyampaikan bahwa meniru sesuatu yang baik merupakan hal yang diperbolehkan. Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan panjangnya sendiri sebelum akhirnya berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Bagi Prabowo, proses memperoleh kepercayaan masyarakat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari demokrasi.
Prabowo mengingat kembali bahwa perjalanan politiknya tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Ia mengatakan sempat empat kali tidak memperoleh mandat dalam kontestasi politik sebelum akhirnya mendapatkan kepercayaan rakyat. Pengalaman tersebut menurutnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus diterima oleh setiap peserta politik. Partai Demokrat juga mengalami perjalanan yang berubah-ubah, mulai dari pernah menjadi kekuatan utama pemerintahan hingga kemudian berada di luar pemerintahan. Perubahan posisi tersebut dipandang sebagai sesuatu yang wajar dalam sistem demokrasi karena keputusan terakhir berada di tangan masyarakat melalui pemilihan umum. Prabowo menilai perbedaan posisi politik tidak seharusnya menghilangkan hubungan persahabatan maupun semangat menjaga persatuan nasional.
Pada kesempatan yang sama, Prabowo menyampaikan apresiasi atas dukungan Partai Demokrat terhadap perjalanan politik dan pemerintahannya. Ia secara khusus mengingat dukungan yang diberikan pada kontestasi politik 2019 dan 2024, termasuk keterlibatan SBY yang turun langsung dalam kegiatan kampanye. Prabowo menilai dukungan tersebut menunjukkan adanya sejumlah kesamaan cita-cita dan prinsip antara dirinya dengan Partai Demokrat. Hubungan politik tersebut kini berlanjut melalui keterlibatan sejumlah kader Demokrat dalam Kabinet Merah Putih. Pemerintah dan partai politik pendukung diharapkan tetap menjaga kerja sama untuk menjalankan berbagai program yang telah ditetapkan. Namun, Prabowo juga menempatkan kritik dan dinamika politik sebagai bagian yang tetap dibutuhkan dalam kehidupan demokrasi.
Presiden turut menyoroti tema peringatan HUT Ke-25 Partai Demokrat yang menekankan upaya memajukan ekonomi rakyat, menegakkan keadilan, serta menjaga demokrasi tetap hidup. Menurut Prabowo, tiga hal tersebut merupakan tujuan yang harus diperjuangkan bersama dan tidak terbatas pada kepentingan satu kelompok politik. Pemerintah membutuhkan dukungan berbagai elemen agar kebijakan ekonomi dapat memberikan manfaat yang semakin luas kepada masyarakat. Pada saat bersamaan, prinsip keadilan dan demokrasi harus tetap dijaga dalam proses pembangunan. Prabowo memandang partai politik mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan kompetisi secara demokratis sekaligus menjaga kepentingan nasional ketika menghadapi perbedaan. Semangat tersebut dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas politik dan keberlanjutan pembangunan.
Kisah mengenai masa Akmil bersama SBY akhirnya menjadi pengantar bagi Prabowo untuk membicarakan perjalanan panjang keduanya dalam pengabdian kepada negara. Mereka memulai perjalanan sebagai taruna, menjalani karier di lingkungan TNI, kemudian mengambil jalan politik pada periode yang berbeda. SBY lebih dahulu mencapai posisi Presiden Republik Indonesia dan memimpin selama dua periode, sementara Prabowo harus melalui perjalanan politik yang lebih panjang sebelum memperoleh mandat sebagai kepala negara. Meski pernah berada dalam posisi dan kepentingan politik berbeda, komunikasi antara keduanya tetap menjadi bagian dari dinamika politik nasional. Prabowo menggunakan pengalaman tersebut untuk menggambarkan bahwa persaingan politik tidak harus menghilangkan hubungan personal maupun komitmen terhadap kepentingan negara. Demokrasi, menurut pandangan yang disampaikannya, memberikan ruang bagi pergantian posisi sekaligus kesempatan untuk kembali bekerja sama.
Peringatan seperempat abad Partai Demokrat tersebut akhirnya tidak hanya menjadi momentum internal partai, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sejumlah tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan dan politik Indonesia. Bagi Prabowo, kehadirannya sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenang persahabatan dan perjalanan bersama SBY sejak masa pendidikan militer lebih dari lima dekade lalu. Cerita mengenai keduanya yang masuk Akmil dalam angkatan sama memberikan gambaran bahwa perjalanan menuju kepemimpinan nasional dapat melalui proses yang panjang dan berbeda. Prabowo juga menekankan bahwa pada akhirnya mandat politik harus diperoleh melalui rakyat dan dijalankan melalui mekanisme demokrasi. Pengalaman dirinya maupun SBY menjadi contoh mengenai perubahan peran dari prajurit menjadi tokoh politik yang memperoleh kepercayaan masyarakat. Momentum HUT Ke-25 Demokrat pun menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga persatuan meskipun perjalanan dan pilihan politik setiap tokoh tidak selalu berada pada jalur yang sama.





